Tak ada hidup keras yang ada hidup itu selaras
Perjuanganku tak henti ketika badai menerpa biduk rumah tanggaku 8th silam. Kini usia pernikahanku hampir 10th berjalan dan alhamdulillah badai itu masih sering menerjang π (bagiku hidup terus berjalan meski rintangan sering kali melintang) **syemangaatttt πͺπΏ
Badai itu pertama kali menerjang ketika anakku berusia 1bulan (iya tepat satu bulan setelah aku melahirkan dan caranyapun caesar) ketika itu masih tabu di kalangan orang2 desa seperti kami ,,melahirkan secara caesar yg tak pernah diharapkan semua orang karna itu momok yang menakutkan selain biaya yang juga mahalπ
Faktor utama terjadinya "perang" kala itu adalah prinsip dan ekonomi rumah tangga kami yang masih sangat labil.
Dia (suamiku) yang kala itu cara berpikirnya masih sangat minim tentang kehidupan rumah tangga,, yang maunya dekat dengan orangtuanya saja (maaf bukan saya menjelekkan suami di tulisan ini ,hanya memang seperti ini kala itu keadaannya).
Lanjutt
Singkat cerita setelah peperangan 2 keluarga pada malam dahsyat itu kami memutuskan pisah ranjang meski kita tau kita masih saling sayang (ciye .. ciye.. πgelora cinta masih membara lah,, secara prnikahan masih 1th ya kan??) π
Hari berganti hari, bulan berganti bulan 2keluarga ini masih bersitegang, namun aku dan suami mencuri curi kesempatan dibelakang ππ (maksudnya cuma ketemuan itupun dijalan kayak orang pacaran) π
eiitssttt jangan kemana-mana dulu masih ada 7thn tersisa ceritany ,, masiih paaanjaaang dan menggeloraaπ
3bulan kemudian anak'ku semakin tumbuh besar ,, biaya hidup yg semakin menjulang karena asi ku pun tidak keluar (tak ada jalan lain susu formula jln kluar) sedangkan posisiku saat itu bisa dikatakan menjadi orangtua tunggal,, suamiku sendiri secara sah masih jadi ayah dari anakku , namun faktor ekonomi dan perilaku yang mungkin berat baginya untuk memberi nafkah yang layak kepadaaku.
Akupun tak menuntut terlalu banyak darinya karena dorongan dari keluarga untuk segera menceraikannya π₯ (kala ituu akuu bisaa apa ??)
4-5bulan berjalan aku tak tahan (nelangsa) melihat anakku yg semakin tumbuh besar yang tak pernah di gendong ayahnya,, melihat anak tetanggaku yang setiap sore di gendong ayahnya di teras rumah,, hatiku nelangsaa π (tuuhkaan keinget jadi cengeng lagi akuhnya) π
Okeh!! Saya putuskan untuk rujuk dengan suamiku karna tak tahan melihat buah hatiku kesepian (akuhnya juga sii) hhh
Kami memutuskan keluar dari rumah dan hidup mandiri meski hanya dalam satu kamar kos2an ,, tidak ikut orang tua atau bahkan mertua (kereen kaan) π (biasa aja sii sbenernya,, semua rumah tangga jg kyak gitu) ππ
Kami nekat meski orang tuaku tidak mengizinkan namun mereka kalah dengan kita yang melakoninya . satu syarat anakku tak boleh aku bawa,, krna orang tuaku masih tak tega (yaa mereka tau betul siapa aku laah,, anaak manjaa mana bisaa ngurus anak dan rumah tangga) aku tak bisa berbuat apa2 krna memang begitu faktanya (klo sekarang mah bedaaa) π
Singkat cerita dalam kemandirian suamiku tak pernah berubah ,,masih keibuan dan minggatan setiap kita terlibat percekcokan.
Aku Lelaaaah π₯ akuu ingiin pulaang saja ,, namun maluu dengan saudara..
Sholat istikharahpun aku lakukan ,, meminta petunjuk dari yang maha pemberi telunjuk,, isyarahpun aku dapatkan (Pertahankan) aku pertahankan hingga sekarang ❤️
KAla itu percekcokan kami faktor utama adalah ekonomi dan ekonomi,, entah akunya yang gak becus ngurus keuangan rumah tangga atau memang kebutuhan yg lebih besar dari pemasukan.. krna suamiku sendiri kerjanya gak pasti (orang jawa bilang rok2 asem) klo dpt yaa dapat uang kalo gak ada kerjaan yaa nol besar .
Akupun memutuskan ikut mencari pekerjaan membantunya mengarungi kehidupan (ciyaaa ,, sok bijak saia) π
Kala itu aku di terima di salah satu home industri,, katakanlah pabrik kemiri dan gajiku saat ituu satu minggu hanya 11.500 (bayaaangkaan gessssss,, tapi jangan pake nangis π) jaaaauuh dari nominal gaji di perusahaan tempatku bernaung sekarang π namun dari 11.500 itu saya paham betul arti dari pengorbanan dan perjuangan π
***Belum selasai inii ... tapii mataa udah ngasih sinyal jelek aja (ngantuknya pake bangett)
Bersambung dulu yaaak... ππ
Badai itu pertama kali menerjang ketika anakku berusia 1bulan (iya tepat satu bulan setelah aku melahirkan dan caranyapun caesar) ketika itu masih tabu di kalangan orang2 desa seperti kami ,,melahirkan secara caesar yg tak pernah diharapkan semua orang karna itu momok yang menakutkan selain biaya yang juga mahalπ
Faktor utama terjadinya "perang" kala itu adalah prinsip dan ekonomi rumah tangga kami yang masih sangat labil.
Dia (suamiku) yang kala itu cara berpikirnya masih sangat minim tentang kehidupan rumah tangga,, yang maunya dekat dengan orangtuanya saja (maaf bukan saya menjelekkan suami di tulisan ini ,hanya memang seperti ini kala itu keadaannya).
Lanjutt
Singkat cerita setelah peperangan 2 keluarga pada malam dahsyat itu kami memutuskan pisah ranjang meski kita tau kita masih saling sayang (ciye .. ciye.. πgelora cinta masih membara lah,, secara prnikahan masih 1th ya kan??) π
Hari berganti hari, bulan berganti bulan 2keluarga ini masih bersitegang, namun aku dan suami mencuri curi kesempatan dibelakang ππ (maksudnya cuma ketemuan itupun dijalan kayak orang pacaran) π
eiitssttt jangan kemana-mana dulu masih ada 7thn tersisa ceritany ,, masiih paaanjaaang dan menggeloraaπ
Bersambung...*Lanjutan ....
3bulan kemudian anak'ku semakin tumbuh besar ,, biaya hidup yg semakin menjulang karena asi ku pun tidak keluar (tak ada jalan lain susu formula jln kluar) sedangkan posisiku saat itu bisa dikatakan menjadi orangtua tunggal,, suamiku sendiri secara sah masih jadi ayah dari anakku , namun faktor ekonomi dan perilaku yang mungkin berat baginya untuk memberi nafkah yang layak kepadaaku.
Akupun tak menuntut terlalu banyak darinya karena dorongan dari keluarga untuk segera menceraikannya π₯ (kala ituu akuu bisaa apa ??)
4-5bulan berjalan aku tak tahan (nelangsa) melihat anakku yg semakin tumbuh besar yang tak pernah di gendong ayahnya,, melihat anak tetanggaku yang setiap sore di gendong ayahnya di teras rumah,, hatiku nelangsaa π (tuuhkaan keinget jadi cengeng lagi akuhnya) π
Okeh!! Saya putuskan untuk rujuk dengan suamiku karna tak tahan melihat buah hatiku kesepian (akuhnya juga sii) hhh
Kami memutuskan keluar dari rumah dan hidup mandiri meski hanya dalam satu kamar kos2an ,, tidak ikut orang tua atau bahkan mertua (kereen kaan) π (biasa aja sii sbenernya,, semua rumah tangga jg kyak gitu) ππ
Kami nekat meski orang tuaku tidak mengizinkan namun mereka kalah dengan kita yang melakoninya . satu syarat anakku tak boleh aku bawa,, krna orang tuaku masih tak tega (yaa mereka tau betul siapa aku laah,, anaak manjaa mana bisaa ngurus anak dan rumah tangga) aku tak bisa berbuat apa2 krna memang begitu faktanya (klo sekarang mah bedaaa) π
Singkat cerita dalam kemandirian suamiku tak pernah berubah ,,masih keibuan dan minggatan setiap kita terlibat percekcokan.
Aku Lelaaaah π₯ akuu ingiin pulaang saja ,, namun maluu dengan saudara..
Sholat istikharahpun aku lakukan ,, meminta petunjuk dari yang maha pemberi telunjuk,, isyarahpun aku dapatkan (Pertahankan) aku pertahankan hingga sekarang ❤️
KAla itu percekcokan kami faktor utama adalah ekonomi dan ekonomi,, entah akunya yang gak becus ngurus keuangan rumah tangga atau memang kebutuhan yg lebih besar dari pemasukan.. krna suamiku sendiri kerjanya gak pasti (orang jawa bilang rok2 asem) klo dpt yaa dapat uang kalo gak ada kerjaan yaa nol besar .
Akupun memutuskan ikut mencari pekerjaan membantunya mengarungi kehidupan (ciyaaa ,, sok bijak saia) π
Kala itu aku di terima di salah satu home industri,, katakanlah pabrik kemiri dan gajiku saat ituu satu minggu hanya 11.500 (bayaaangkaan gessssss,, tapi jangan pake nangis π) jaaaauuh dari nominal gaji di perusahaan tempatku bernaung sekarang π namun dari 11.500 itu saya paham betul arti dari pengorbanan dan perjuangan π
***Belum selasai inii ... tapii mataa udah ngasih sinyal jelek aja (ngantuknya pake bangett)
Bersambung dulu yaaak... ππ
aauuu....masih harus menunggu.....lanjutin dong..
BalasHapus